Mengapa Pilih 2?

Mungkin gue abis nulis ini bakal dicerca abis-abisan. Ato bahkan akun WP gue bisa bernasib sama kayak akun Tumblr gue yang dihack. Tapi, gue kaga takut. Setiap orang bebas untuk berpendapat. Ini demokrasi, bukan lagi orde baru. Dan sebagai generasi muda, kita gak boleh apatis. Betul? 🙂
Selama seminggu ini, ada sekitar belasan personal message di FB yang cukup mengganggu gue. Dan itu semua dari pendukung tim sebelah, capres no. 1. Bahkan sampe detik ini, tepat dimana gue buat artikel ini, tepatnya memasuki masa tenang. So, gue harus memberikan penjelasan gue, opini gue, dan alasan tentu saja. Mengapa pilih Jokowi? Mengapa dua jari?
.
Oke, banyak yg bilang ke gue begini: “Masalah HAM itu masa lalu. Gausah dibahas. Bilang aja kalo capres lu iri sm Prabowo. Prabowo itu satu2nya jenderal yg bisa naik ke puncak Everest. Jokowi bisa apa? Ngurus Jakarta berantakan, udh mau sok2an ninggalin jabatan demi RI 1. Ambisius! Kita butuh pemimpin tegas mas, bukan yg pencitraan!”
.
Oke, gua perlu klarifikasi beberapa hal tentang ini. Bukan bermaksud menjelekkan kubu Prabowo, maaf. Sekali lagi, ini opini. Semua bebas berpendapat. Dan gue juga mencoba berpendapat. Ini adalah kali pertama gue berpartisipasi dalam pemilu. Gue gamau, di kesempatan pertama ini, pilihan gue buat 5 tahun kedepan jadi salah satu keputusan terburuk dalam hidup gue. Oke, mulai!
.
Yang pertama, adalah BODOH dan TOLOL, jika mengatakan Jokowi meninggalkan Jakarta demi tahta Istana Negara. Kenapa? Karena, kalopun ia jadi terpilih, ia juga tetep ngurusin Jakarta. Tapi sebagai Presiden. Jakarta kan juga ibukota negara, jadi mustahil lah Jokowi lepas tangan dari yang namanya “Mengurus Pemerintahan Ibukota”. Kalo ada yang bilang dia melanggar sumpah, coba kasih gua bukti. Di dalam sumpah jabatan, apapun itu tingkatnya, gaada kata ‘Saya akan mengurus daerah ini ini ini selama 5 tahun’. Nope. Silahkan kalian buka YouTube, cari video pelantikannya, dan tonton dengan teliti. Sampe masih bilang ada, anda tampaknya harus ke dokter THT karena telinga anda bermasalah.
.
Buat yang meminta Jokowi stay di Jakarta, apa yang membuat kalian begitu? Kalian gamau mendukung orang baik seperti Jokowi buat membangun negara kita yang lagi acak adul gini? Atau justru kalian ga sudi Ahok naik jabatan jadi Gubernur DKI? Think again.
.
Yang kedua, soal Prabowo. Dia tegas? Oke lah. Kata lu kan? Kata gue sih kagak. Tegas itu bertanggung jawab. Dan kesalahan dia di masa lalu, soal HAM, udah jelas itu cacat. Gue sih heran, banyak banget yang bilang dan beranggapan itu masa lalu yang gausah dibahas. Gini aja deh gampangnya. Gue ambil orangtua lu, gue ilangin, selesai. Kalo lu marah-marah ke gue, sampe 16 tahun kemudian, gue gampar. Belom pernah ngerasain kan kehilangan orang tua, bukan karna mati tapi karna diculik? Pemimpin-pemimpin kita jaman dulu itu pengecut. Mereka yang diculik, adalah mereka yang melawan kebijakan pemerintah orde baru yang otoriter. Pemerintah jaman dulu gabisa menerima perbedaan. Rakyat harus tunduk. Dan itu sudah pasti sejarah kelam bangsa Indonesia. Dan lu masih mau bilang itu masa lalu yang gaperlu dibahas?
.
Oiya, soal Prabowo naik Everest. Yang perlu anda tahu: Prabowo naik gunung cuman sampe basecamp. Yang sampe puncak itu pasukannya, bukan Prabowo nya. :p
.
Yang ketiga, dan ini yang membuat gue jatuh hati. Mereka yang #AkhirnyaMemilihJokowi, adalah mereka yang tak asing lagi di Indonesia. Seniman, penulis, artis, pemusik, akademisi, pengacara, motivator, sampe pengusaha-pengusaha UKM. Petani, pedagang pasar, buruh, nelayan, peternak, rakyat kecil, semua mendukung Jokowi. Gue kasih contoh. Kemaren ada dua tukang becak yang bersepeda dari Jogja sampe Jakarta, dan juga ngumpulin uang sumbangan buat Jokowi. Di Makassar, nelayan-nelayan pada ngejual hasil tangkepannya, dan uangnya dikirim ke rekening Jokowi. Bahkan, ada petani yang jalan kaki 4 jam cuman buat nyetor uang tabungan dia satu tahun yang jumlahnya Rp 120rb demi menjadikan Jokowi pemenang pilpres. Para seniman juga gamau kalah. Mulai dari video kreatif, sampe lagu demi lagu mereka gubah untuk Jokowi. Lagunya lagu sendiri kok, tenang aja. Gak pake jiplak-jiplak tanpa izin. Para artis juga bikin video yang mengajak kita semua untuk dukung Jokowi. Dan, gue terharu. Ini gila! Dari Giring Nidji sampe Ryan D’Masiv. Dari Yuni Shara sampe Olga Lidya. Dari Mira Lesmana sampe Sherina. Glenn Fredly. Afgan. Anggun. Titiek Puspa. /rif. Slank. J-Flow. Marzuki Kill The DJ. Dari penulis sekelas Djenar Maesa Ayu dan Dewi ‘Dee’ Lestari sampe penulis muda macem Dwitasari. Everybody says, “Salam 2 Jari”. Apalagi setelah ada Konser 2 Jari, dimana semua artis pendukungnya rela TIDAK DIBAYAR demi dukung Jokowi. Ini ya, ini fenomena! Negara lain gak pernah kayak gini. Dan keterlaluan aja, kalo Jokowi besok nggak menang pilpres cuman gegara masalah internal saat pencoblosan. Surat suara rusak, DPT kurang, TPS tutup, etc. Meskipun gue juga yakin, kecurangan akan selalu ada, mengintai pengawasan kita yang lemah.
.
Singkat cerita, gue pilih 2, karena gue jatuh cinta dengan cara dia memimpin. Dia mau turun ke bawah. Dia punya orang-orang terbaik di bidangnya, yang nantinya jika terpilih, hampir pasti mereka-mereka lah yang membantu pemerintahan Jokowi. Apa yang ditawarkan Jokowi, adalah apa yang dibutuhkan masyarakat. Analoginya begini. Pemimpin lain akan mengatakan: “Kita bisa! Saya akan membuat negara ini menjadi lebih baik!”. Namun, Jokowi berbeda. Dia adalah tipe orang yang berkata: “Kamu bisa! Ayo berdiri, dan kita bangun negara ini bersama-sama!”. Jokowi mawas diri. Dia tidak sempurna. Bagaimanapun, seorang pemimpin juga butuh peran rakyatnya. Dan Jokowi paham akan hal itu. Dia seakan tak berjarak dengan rakyat. Dia seperti orang biasa, dengan wajah ndeso nya, dengan logat khasnya, dengan tutur kata dan perbuatannya. Yang berbeda hanyalah jabatannya. Namun, dibalik semua itu dia sangat tegas. Dia tak segan akan langsung memecat pegawai pemerintahan yang menurutnya memiliki kinerja buruk. Udah sering liat kan dia sidak pagi-pagi ke kantor kelurahan? Dan, siapa lagi yang membuat kebijakan ‘LELANG JABATAN’ selain Jokowi? I think no one.
.
Diluar semua itu, gue berharap pilpres berlangsung lancar, tanpa kendala, gaada kekerasan, fitnah, apapun itu. Dan tentu saja, yang terbaik yang menang. 60 detik di bilik suara, tentukan 5 tahun nasib Indonesia ke depan. Dan, respect. Salam 2 Jari! ^^

Advertisements

Ada Yang Hilang #1

Kadang rindu ini kian menusuk diri. Dia datang lalu pergi, begitu seterusnya dan tak menentu. Aku seringkali bertanya pada lubuk batinku, siapa dia? Seberapa pentingkah dia hingga hampir setiap waktu aku menyempatkan diri untuk melukis rupanya di awang-awang? Aku bahkan belum pernah bertatap muka dengannya. Melihatnya dari kejauhan saja belum pernah. Apalagi menemukannya di tengah fananya keramaian ibukota. Aku bisa saja berteriak mencarinya, tapi tahu namanya saja tidak. This is clueless.
.
Semua seakan disembunyikan dariku. Tak ada satupun orang yang menceritakanku tentang dia. Seperti apa wajahnya, siapa namanya, tinggal dimana, apa pekerjaannya, aku tak memiliki secercah petunjuk pun. Aku merasa seperti ada fakta yang disembunyikan dariku. Mereka hanya berkata, aku lahir di sebuah rumah sederhana di Vancouver. Aku besar dan sekolah di ibukota, Canberra. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk berkelana hingga ke negeri Beruang Merah ini. Dataran Siberia menjadi rumahku yang kesekian, sebagai seorang petualang yang harus terus berjalan, berpetualang, naik turun gunung, tak peduli apapun halangannya, demi sebuah film dokumenter berkelas. Tuhan menduga, mungkin, aku sekalian mencoba membongkar seperti apa masa laluku. Fakta apa yang hilang dan mereka sembunyikan dariku?
.
Aku hanya ingin melihatnya sekali saja. Buat aku tahu, Tuhan. Aku setiap pagi duduk di St. Petersburg Cathedral selama hampir dua jam, memohon kepada-Nya agar aku diberikan petunjuk tentangnya. Aku bahkan mengandai-ngandai, apakah dia seorang buronan internasional yang begitu lekat dengan kejahatan? Ataukah ia seorang pejabat korup yang menikmati dolar demi dolar yang bukan diperuntukkan baginya? Atau mungkin dia seorang penjahat kelamin yang begitu hina di mata masyarakat lokal? Aku tak tahu. Aku serasa seperti di Merkurius, terpanggang oleh panas terik matahari. Sedang jawaban itu berada di antara bintang-bintang di penjuru alam semesta.
.
Yasudahlah. Siapapun dia, bagaimanapun rupanya, apapun pekerjaannya, aku hanya ingin melihatnya. Sekali saja. Iya. Ayah….

Jangan Main-Main (sama kelamin)!

Judul buku karya Djenar Maesa Ayu itu sedikit menginspirasiku malam ini. Di layar kaca, headline berita pun penuh dengan satu tema khusus: kejahatan seksual. Aku seperti ingin menyemburkan espresso yang baru saja kuminum setelah melihat jumlah korban mencapai 200an orang, dan semuanya anak-anak dibawah umur. But I always wonder, why? Kenapa harus anak-anak? Kenapa sodomi?
.
Kecurigaanku sudah mengalahkan rasa nafsu makanku malam ini. Mbah Google pun menjadi alternatif pertamaku, demi secercah informasi. Mataku tertuju pada salah satu headline di koran dunia maya. Pemerkosaan itu sudah bukan hal yang asing di negeri ini. Begitu pula para pecinta sesama jenis. Namun, kasus sodomi itulah yang membuat dahiku mengkerut. Anak-anak. Mereka baru saja menikmati masa kecil yang indah dan bahagia. Bermain petak umpet, berkumpul bersama teman sekomplek, berjalan meniti keseimbangan di bibir selokan. Iya, aku juga dulu seperti itu. Namun saat ini, mereka kebanyakan hanya berdiam diri di ranjang perawatan, bergelut dengan mimpi buruk dan rasa traumatik, serta halusinasi ketakutan yang luar biasa. Normalkah?
.
Hei manusia, sadarlah! Mereka gak pantes mendapatkan semua ini. Mereka tak tahu sebelumnya apa itu penis, vagina, oral, anal, apapun itu yang berbau seksualitas. Mereka juga tak paham bagaimana kedua alat kelamin itu digunakan. Mereka juga belum tahu bagaimana caranya mengontrol emosi dari sebuah hubungan intim. Orang labil tentu akan mengatakan jika seks itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan membuat ketagihan. Namun, tak ada asap jika tak ada api. Penyakit seperti HIV, AIDS, bahkan PMS pun mengancam dibalik semua itu. Tidakkah mereka berpikir sejauh itu? Apalagi jika korbannya anak-anak. Apa kalian mau bertanggung jawab perihal masa depan mereka?
.
Think again. Aku memang belum pernah merasakan. Namun pengalaman dari teman-teman dahulu sudah menginspirasi untuk ku tulis. Normalnya, pria akan lebih memilih untuk memperdayai wanita yang terlihat innocent, nakal, mengundang, seksi, montok, dan sebagainya. Tapi ini diatas normal. Mereka justru memilih anak-anak sebagai pemuas fantasi mereka, dan melakukan anal seks! Jijik memang untuk dibahas. Siapa yang mau lubang anusnya disesaki oleh benda asing yang tak seharusnya ada?
.
Hukuman bagi mereka haruslah berat. Kalau tidak kebiri, ya hukum mati. Negeri ini terlalu lemah dalam melindungi perempuan dan anak-anak. Bahkan anak laki-laki juga terancam. Oh ya, betapa indahnya masa kecil di Indonesia. TK sudah disodomi. SD diperkosa guru dan tetangga. SMP-SMA dihamili kekasih tercinta. Hahahaha that’s a f*#king joke, you know?
.
Maaf kalau kata-kata ku disini begitu vulgar. Kami butuh keamanan. Anak-anak butuh perlindungan. Bukannya pengabaian yang berujung penderitaan, dan lalu berakhir dengan ketakutan dan rasa menyesal. Sayangi anak-anak. Mereka generasi bangsa selanjutnya. Merusak mereka, berarti juga merusak masa depan bangsa anda. Think again, please. Think again.

Telat Move On

Sepiring gudeg khas Jogja itu mengawali tatap muka kita. Aku tak melihat sesuatu yang berbeda dari dirimu. Semua terasa seperti dulu, kala kita masih tergiur indahnya kemesraan cinta. Iya. Saat ini memang aku bukan lagi siapa-siapa. Kehadiranku hanyalah formalitas. Kedatanganmu pun karena embel-embel study tour sekolah. Bukan karena alasan lain.
.
Engkau pasti mengerti. Saat itu kita memang terlihat layaknya dua insan yang mengharapkan secercah keajaiban untuk kembali menyatu. Tentu kamu ingat betul, bagaimana kita mengakhiri kisah kasih 14 bulan itu dengan pertengkaran hebat di telepon, lalu berakhir dengan deraian air mata. Mungkin bagi banyak orang, tinggalkan saja. Dia sudah tak mencintaimu! Namun tidak bagiku. Aku seakan-akan selalu memberi kesempatan kedua.
.
Kita habiskan sore itu dengan berjalan di pinggiran Malioboro, diiringi suara khas para penjual dan sesaknya pengunjung. Awalnya semua berjalan baik, hingga akhirnya. Ada rombongan teman-temanmu mendatangi kita. Salah satu yang begitu lekat ku perhatikan adalah seorang lelaki di antara mereka. Oke lah, secara harfiah dia ganteng. Meskipun tingginya hanya sebahuku. Aku mulai menaruh curiga, sesaat setelah kami berjalan bersama. Kebersamaan kita seakan hilang. Aku yang sibuk meladeni pertanyaan teman-temanmu, semakin dibuat diam dengan melihat kedua tangan kalian saling berhimpitan. Hatiku mulai terasa miris. Semakin miris, saat kalian mulai saling merangkul…… Persis di depan kedua mataku.
.
Titik balik dari semua ini, adalah saat dirimu menjerit karna kehilangan BB. Aku dengan sekuat tenaga, ikut mencarinya, meski aku tahu ini akan terdengar mustahil. Tempat seramai ini, dan aku harus mencari barang hilang yang bukan milikku? Masa bodoh, ini saatnya pembuktian. Dengan dibantu beberapa orang, aku terus mencari. Ya, dan hasilnya nihil. Smartphone ber-PIN 292AD239 itu benar-benar seakan lenyap ditangan yang tak seharusnya. Ku coba tenangkan dirimu. Dengan yakin, tanganku mengantarmu ke bis 2 yang ada di tempat parkir sebelah utara kota. Apa lagi ujianku setelah ini?
.
Sesampainya di bis, teman-temanmu yang lain justru datang dan memelukmu. Ku jelaskan segala inti permasalahannya. Dan lagi-lagi, anak muda itu datang. Dan, dirimu tanpa berpikir panjang langsung memeluknya! Ya Tuhan, ini kiamat. Batinku saat itu. Dan engkau pun langsung pergi menuju ke dalam koridor bis, meninggalkanku tanpa sepatah katapun.
.
Kembali, aku pulang dengan kepala tertunduk. Lesu, sakit hati, kecewa, semua berpadu satu. Secangkir kopi hitam di rumah pun kalah pahit ketimbang kejadian malam itu. Aku duduk termenung di pojokan belakang bis kota yang mengantarku pulang. Kuremas pelan saku kananku. Isinya bukanlah apa-apa, hanyalah sebuah gelang. Gelang milik almarhumah sahabatku, yang mungkin bakal jadi penanda kembalinya kita yang dulu. Aku dengan jujurnya, masih begitu mengharapkanmu. Aku mungkin sudah mengatakannya berulang kali, kau takkan pernah tergantikan, dengan mudahnya. Iyap, kembali ke rutinitasku. Bulir demi bulir air mata ku turun perlahan. Terngiang pada salah satu lirik The Script: “How can I moved on, when I’m still in love with you?”. Tapi itu hanyalah basa-basi.
.
Aku tentu akan selalu ingat kejadian itu. Pelajaran, bagaimana mungkin aku masih dengan tegarnya mencintai seseorang, menunggu dia kembali, tak pernah meminta yang lain, meski pada akhirnya kita tahu epilognya: kita selalu menjadi yang tersakiti. Kita tak mungkin mengorbankan waktu dan tujuan kita demi seseorang yang mengabaikan kita. Aku mencoba meraba. Dunia ini terlalu luas untuk menunggu seseorang yang tak pasti. Sejak itu, aku mulai yakin. Tuhan punya skenario tersendiri. Masih ada yang lebih siap berdarah-darah untukku ketimbang melihatku berdarah-darah untuknya namun diabaikan olehnya. Iya, aku mungkin terlambat sudah untuk moving on…
.
.
.
“Cause if one day you wake up and find that your missing me. And your heart starts to wonder where on this earth I could be. Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet. And you seen me waiting for you, on the corner of the street. So I’m not moving, I’m not moving….”
(The Script – The Man Who Can’t Be Moved)

ANAREESES: Misteri Juara Eropa

Sejak pertama kali digulirkan di musim 1900/91, Liga Champions Eropa sama sekali belum memiliki ‘back to back champions team’, alias juara bertahan yang mampu mempertahankan gelar di musim berikutnya. Sejak terakhir Ajax Amsterdam meraih hattrick gelar di era 70an, belum ada tim lain yang sanggup menyamai prestasi Johan Cruyff dkk, bahkan melebihinya. Dari Crvena Zvesda (Red Star Belgrade) hingga yang terbaru Chelsea, semua kampiun Eropa tak mampu mempertahankan trofi si Kuping Besar. Tahun ini, Bayern Munchen berpeluang untuk melakukannya, namun melewati Real Madrid dan partai final kontra Atletico Madrid atau Chelsea bukanlah perkara mudah. Apalagi Chelsea, tim yang mempermalukan mereka saat menjadi tuan rumah final edisi 2012.
.
.
Jika kita mundur beberapa tahun ke belakang, kita tentu akan mengaitkan mitos juara Eropa dengan Barcelona. Mengapa Barcelona? Iya. Tim manapun, yang mengalahkan raksasa Catalan itu di semifinal, akan menjuarai Liga Champions. Musim 2007/08, Manchester United melenggang ke final di Moskow setelah memendam impian Carles Puyol cs di semifinal dengan agregat 3-1. Di final, United pun berhasil juara setelah dua algojo Chelsea, John Terry dan Nicolas Anelka gagal mengkonversi penalti. Setahun setelahnya gantian Barcelona yang juara. Musim 2009/10, Inter Milan dengan Mourinho nya meraih treble winners (Serie A, Coppa Italia, UCL), juga dengan menundukkan Barca di semifinal. Pasukan Guardiola membalas di tahun berikutnya dengan menjungkalkan Man. Utd di Wembley, sebelum di semifinal 2012 Lionel Messi merasakan pahitnya gagal penalti melawan Petr Cech di Camp Nou. Sempat unggul 2 gol via Busquets dan Iniesta, Chelsea sukses membalas dengan chip Ramires di penghujung babak pertama dan gol Fernando Torres di injury time babak kedua, meskipun sempat kehilangan John Terry yang dikartu merah. Ditambah hasil kekalahan tipis 0-1 di London, Chelsea pun lolos ke final. Dan akhirnya juara setelah menumbangkan tuan rumah final Bayern Munchen! Belum selesai, mitos ini berlanjut di musim 2012/13. Bayern Munchen dengan superior menghajar raksasa Catalan itu 4-0 di Camp Nou! Lalu ditambah dengan 3-0 di Allianz Arena, sehingga total agregat 7 gol! Bayern pun juara setelah menuntaskan partai All German Final kontra rival abadi Borussia Dortmund dengan skor 2-1.
.
.
Musim ini, FCB juga harus terlempar dari perebutan mahkota benua Biru setelah ditaklukkan Atletico Madrid di Vicente Calderon. Gol Koke di menit 5 cukup untuk membuat Barca angkat koper lebih dulu, setelah sebelumnya bermain draw 1-1 di Camp Nou. Atleti juara? Belum! Ini anomali untuk Atletico. Mereka mengalahkan Barca di perempat final, bukan semifinal. Di semifinal, mereka harus menjamu Chelsea dulu di Madrid, sebelum bertamu ke kandang mereka di Stamford Bridge.
.
.
Ada mitos kedua, yang dimana juara ditentukan melalui negara asal tuan rumah setahun sebelumnya. Tahun 2009, final digelar di Olimpico, Roma, dimenangkan oleh Barca. Tahun berikutnya, tim asal Italia (Inter Milan) menjadi juara Liga Champions. Final 2010 digelar di Spanyol, dan tahun 2011 gelar juara diraih Barcelona (Spanyol). Final Barca v United di tahun 2011, digelar di Wembley Inggris, dan piala UCL 2012 jatuh ke tangan tim Inggris, Chelsea. Terakhir, laga final 2012 Munchen kontra Chelsea digelar di Allianz Arena, Munich. Dan benar, tahun berikutnya The Bavaria yang menjadi kampiun Eropa. Jadi, berdasarkan mitos ‘tuan rumah’, Chelsea lah yang paling berpeluang merengkuh gelar musim ini, karena musim lalu gelaran partai final Bayern-BVB diadakan di Wembley, London. Satu lagi, jika kembali berdasarkan mitos itu, juara UCL musim depan akan berasal dari Portugal, mengingat final kali ini akan dihelat di Lisbon.
.
.
Diantara dua mitos tersebut, Atletico dan Chelsea justru berhadapan di semifinal Liga Champions. Pertandingan ini justru menentukan, manakah mitos yang lebih ampuh. Pemenang laga ini, bisa dipastikan secara ‘mistis’ bahwa mereka lah yang akan menggondol trophy UCL. Namun diluar semua mitos yang ada, pertarungan sebenarnya masih belum terjadi. Masih ada 2 x 90 menit untuk menjungkir balikkan semua prediksi. Tunggu saja leg pertama 22-23 April 2014 dan leg kedua 29-30 April 2014! The Champions!

Not Easy

Cinta. Kalo kita udah bicara soal yang satu ini, kita berasa udah expert dalam pengalamannya. Begitu pula aku. Yang kali ini sedang menikmati suasana kota gudeg yang kecil dan terkenal dengan ramah tamahnya itu. Meskipun aku melihat spanduk dan baliho caleg-caleg yang menurutku hanyalah “sampah”, namun bagiku ini sudah lebih dari cukup. Yogyakarta adalah kota yang nyaman, bahkan bagi seseorang yang telah kehabisan tinta inspirasi.
.
.
Aku duduk di pinggir lapangan luas, bertemankan hembusan angin sore dan teduhnya pepohonan di tepi lapangan. Tatapanku menuju ke arah langit di sebelah barat. Cakrawala seakan terbelah. Awan-awan pun menggulung indah. Bercampur jingga kala senja yang begitu sempurna. Dan… -Hei, kenapa aku jadi membicarakan ini??
.
.
Yang aku renungkan disini, adalah aku. Masih terngiang jelas dalam ingatanku. Seorang teman perempuan mencurahkan segala isi hatinya tentang sang belahan jiwa. Dia menceritakan bagaimana dia berjuang, hingga akhir dia lelah dan menangis. Ah perempuan, mereka begitu lemah. Aku berusaha dengan segala cara. Solusi jitu, nyerocos, sampe basa-basi sama pacarnya demi membuat dia bersemangat lagi. Sekali lagi, ini titik baliknya. Aku, yang notabene “jomblo”, bisa memotivasi orang lain begitu kerasnya, begitu kuatnya, seakan ikut memperjuangkan hubungan mereka, meski aku tahu itu hanya membuang-buang waktuku. Tapi aku sendiri tak pernah bisa memaksa diriku sendiri. Menyemangati diriku. Jangankan pedekate, mendekatkan diri pada perempuan saja aku masih terlalu banyak berpikir.
.
.
Dikutip dari salah satu lirik Coldplay, “Cinta itu prakteknya tidak semudah teorinya.”. Aku tahu. Aku bisa berbicara A, B, C, D, E tentang cinta. Aku bisa mengartikan definisi apa itu cinta sejati. Aku bahkan tahu kunci untuk terus bertahan dalam satu hubungan. Namun anehnya, aku sama sekali gagal dalam prakteknya. Aku yang berusaha mempertahankan, justru bertepuk sebelah tangan. Aku berusaha untuk menjadi yang dicintai, bukan hanya yang mencintai. Aku mencoba menjadi aku yang benar-benar didambakan seorang wanita. But, it’s just bullshit.
.
.
Aku pernah sekali berpikir. Orientasiku berbeda kah? Apakah aku, maaf, gay? Ataukah aku harus melajang seumur hidup? Hingga akhirnya, ah! Mengapa aku terlalu mudah mengakhiri semuanya? Ealah mblo, batinku. Aku… Ah yaudahlah. Dream on.
.
.
Love it’s not as simple as you said. Sometimes you needs to prove your love.

Goes on.

Ketika tak satupun telinga ingin mendengar keluh kesahku, 140 karakter Twitter lah pelampiasanku. Ketika tak satupun manusia disekitarku peduli, aku hanya terlena dalam diam. Ketika semua insan menyalahkanku dalam satu hal sepele, kembali aku terdiam. Aku seakan-akan menjadi manusia paling salah yang pernah tercipta. Kepala-kepala itu terlalu egois untuk ku terjang. Pikiran-pikiran tebal itu juga terlalu dalam untuk ku selami. Hati dan nurani mereka, terlalu jauh untuk ku sentuh. Aku seperti seakan berjuang sendiri. Jauh dibawah semua, seperti terasingkan di satu tempat, yang hanya diriku yang tahu dimana itu.
.
.
Banyak orang mengumbar janjinya, senyumnya, niat baiknya, emoticon-nya. Mengumbar semata. Karena bagi mereka, aku hanyalah angin malam. Yang datang berhembus, menyalurkan hawa dingin yang membuat tidur mereka terganggu, dan kemudian hilang begitu saja di kala mentari terbangun. Mereka hanya menganggapku ada, tepat disaat kehadiranku mereka butuhkan. Kenapa?? Kalian tentu berpikir, aku terlalu naif, dan terlalu cepat menyimpulkan tentang semua itu. Tapi kalian tak pernah mau berfikir ulang. I said what I feel. Aku tak akan menulis panjang lebar, jika aku hanya merekayasa dan tak pernah sekalipun merasakannya.
.
.
Memang ada saat dimana aku merasa berkawan. Mendiang sahabatku, kurang lebih dua tahun lalu, seringkali menjadi tempatku berteduh. Dia begitu lekat menatapku. Kedua tangan halusnya membimbingku, menuntunku, merangkulku, melewati setiap pahit manisnya kehidupan. Dia bagaikan belahan jiwa, yang tak akan terganti meski kami tak pernah berniat sekalipun untuk merajut kasih, dalam indahnya naungan cinta. Hingga September 2012 lalu, leukimia membuatnya kehabisan tenaga untuk memperjuangkan tiap detik masa hidupnya. Satu hal yang kusesali: Dia hampir meluangkan dua per tiga hidupnya hanya untuk berada disampingku. Namun aku tak sempat hadir di sampingnya hanya untuk 10 menit. Aku datang terlambat, ketika kedua matamu sudah tertutup. Ah sudahlah, kejadian itu begitu memukulku.
.
.
Keluargaku bukanlah yang terbaik. Aku lahir jauh dari kesan ‘dianggap’. Perempuan yang biasa aku panggil ‘bunda’, begitu sibuk dengan pekerjaannya. Kalian tak akan percaya. Belasan tahun sudah usiaku, dan kami tinggal bersama hanya setahun. Aku dikenal sebagai ‘anak bandel’. Aku begitu sering mengabaikan cerocos keluarga demi mimpi dan keinginanku. Aku begini bukan karena apa. Mereka begitu memaksaku. Mereka tak mau tahu bagaimana kondisiku. Mereka ingin aku menjadi apa yang mereka mau, bukannya melawan mereka demi seuntai mimpi. Seringkali, aku ribut. Berantem hebat. Adu mulut. Bahkan kabur dari rumah pun juga pernah. Aku bahkan pernah hampir mengakhiri nyawaku, sebelum Vania menghentikan aksiku. Aku merasa sendiri. Keluarga sama sekali tak pernah mendukungku. Mereka terlalu egois. Manusia-manusia itu terlalu otoriter.
.
.
Orang-orang banyak mungkin (bahkan seringkali) menganggapku aneh, upnormal, weird, something etc. Mereka lebih suka melihatku sendiri, ketimbang datang, menepuk pundakku, mengajakku bicara, membuatku tak terlihat sendiri. People never meant me as a live-person. Just as swing as the wind. Bagi mereka yang mengenalku, benar-benar mengenalku, mereka tentu paham betul apa yang kurasakan. Apa yang jauh ingin kusampaikan dari lubuk hatiku. Mereka yang mengerti, justru akan paham jika aku lebih banyak menangis dalam kesendirianku, ketimbang tertawa karena pengalamanku. Even I am a gentlemen. But you can’t conclude if a real man cannot cry, right? That’s humanity. Aku cuman pengen terlihat kuat. Aku masih disini, karna mimpiku: jadi bagian dalam tim National Geographics. Aku siap bertaruh nyawa demi itu. Friends become stranger, things go wrong, memories still remains, but life goes on.
.
.
Aku harap kamu semua bisa mengubah penilaian kalian tentang aku. Ya, as I said before. Ini semua kulakukan, ketika buku, pulpen, dan sebuah blog site, jauh lebih peka untuk mendengar keluh kesahku, suka dukaku, ketimbang manusia-manusia disekitarku.